Manusia hidup di dunia memiliki beberapa aspek penting dalam hidup, salah satu yang harus dijaga adalah kesehatan. Setiap individu memiliki keinginan untuk tetap sehat dan dapat melakukan kegiatan sesuai yang dikehendaki. Menurut WHO, kondisi sehat yang dimiliki setiap manusia yaitu keadaan yang sempurna baik fisik, mental, maupun social, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan atau cacat (Notosoedirjo, 2005:3). Pengertian kesehatan yang dikemukakan WHO ini merupakan suatu keadaan ideal dari sisi biologis, psikologis dan sosial.
Seseorang yang hidup sehat tanpa mengidap penyakit akan lebih bahagia dan positif dalam menjalani hidup. Tetapi bagaimana dengan orang yang harus hidup berdampingan dengan penyakit selama hidupnya? Sudah banyak kita mendengar kisah orang-orang yang dengan sukses hidup berdampingan dengan penyakit yang dideritanya. Mereka yang sukses bertahan dengan penyakitnya adalah orang-orang yang memiliki semangat hidup yang tinggi dan besar untuk melawan penyakitnya. Tetapi banyak juga mereka yang menyerah dengan penyakit yang dideritanya. Penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan ini misalnya diabetes mellitus, kanker, AIDS. Dan yang belakangan paling banyak diperbincangkan adalah diabetes mellitus, karena selain tidak dapat disembuhkan penyakit ini juga merupakan penyakit menurun dan menyebabkan komplikasi.
Diabetes mellitus merupakan penyakit tertua di dunia. Menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Diabetes mellitus dapat ditegakkan dengan adanya tanda-tanda, anamnesis berupa keluhan sering kencing, rasa lapar atau haus berlebihan, dan penurunan berat badan [10-30%]. Selain itu penderita juga menjadi mudah lelah, memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, adanya kelainan pada retina mata atau luka yang sukar sembuh, serta kadar gula darah ketika puasa ³ 126 mg/dL (7.0 mmol/L); kadar gula darah 2 jam setelah makan atau gula darah random ³ 200 mg/dL (11.1 mmol/L) (Fritz, 2008).
Beberapa penyebab diabetes mellitus antara lain: faktor genetik, Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.. faktor non genetik misalnya karena infeksi virus tertentu, obesitas, malnutrisi protein, dan gaya hidup yang tidak sehat misalnya mengkonsumsi alkohol dan kurang berolahraga serta dapat juga dipicu oleh stress (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Angka prevalensi penderita diabetes tanah air berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta jiwa. Angka prevalensi pre-diabetes mencapai dua kali lipatnya atau 11% dari total penduduk Indonesia. Berarti, jumlah penduduk indonesia yang terkena diabetes akan meningkat dua kali lipat dalam beberapa waktu mendatang. Pada daerah seperti Papua Barat memiliki angka prevalensi diabetes terhitung kecil dari angka rata-rata diabetes nasional yaitu berada pada angka 1,7 % namun angka prevalensi prediabetes bisa mencapai 20 kali lipatnya atau sekitar 21.6%. Achmat menambahkan, 50% dari individu yang berada pada posisi pre-diabetes akan menderita diabetes. Terlebih angka individu pre-diabetes tertinggi berada pada rentang usia 12-17 tahun dengan prosentase 27% (Achmat, 2009).
Penyakit diabetes menjadi masalah kesehatan yang utama pada saat ini karena menyebabkan komplikasi. Penderita diabetes mellitus menanggung resiko untuk mengindap penyakit jantung koroner dan hipertensi (tekanan darah tinggi), khususnya penderita diabetes mellitus tipe II (Noer, 1997:700, dalam savitri, 2006). Diabetes mellitus dapat menyebabkan kebutaan dan mengganggu syaraf sehingga tubuh tidak dapat merasakan sensasi. Dalam beberapa kasus, seorang penderita Diabetes Mellitus harus menjalani amputasi karena luka yang meradang di kaki, yang disebut ganggrain. Menurut Tjokroprawino (2001:55), wanita penderita diabetes lebih banyak mengalami gangguan fisik daripada penderita laki-laki, misalnya gangguan pencernaan, tidur, dan migraine. Penderita diabetes harus menjalani pengobatan dan perawatan yang ketat seumur hidupnya untuk mencegah munculnya komplikasi yang parah.
Walaupun diabetes mengganggu sistem fisiologis manusia, kenyataan yang ditemukan di lapangan adalah penderita diabetes juga mengalami gangguan pada kondisi psikisnya. Ini ditandai dengan perubahan perilaku para penderita yang mudah menjadi emosi dan kurang dapat mengendalikan diri dengan baik, terutama dalam menjaga pola makan untuk mengurangi gejala diabetes. Pasien diabetes merasa bahwa penyakit ini mengganggu aktivitas keseharian penderita sehingga kelancaran aktivitas itu sendiri berjalan kurang baik. Hal inilah yang menjadi fokus perhatian karena pengaruh diabetes yang juga mempengaruhi psikis sehingga terjadi perubahan yang cukup mencolok pada perilaku pasien penderitan diabetes. Perubahan kondisi psikis ini diperlihatkan antara lain pada aspek emosional penderita, misalnya muncul emosi yang labil dan sangat tergantung mood pada penderita. Kondisi ini pantas untuk ditanggapi secara serius karena pengaruh yang ditimbulakan oleh perubahan perilaku ini tidaklah hanya dialami oleh pasien tetapi juga dialami oleh anggota keluarga dan kerabat dekat.
Kondisi ini terutama ditemui pada penderita diabetes tipe II yang memiliki kondisi berbeda dengan penderita diabetes tipe I. Pada pasien penderita diabetes tipe I telah mendapat suntikan insulin dan perawatan fisik sejak masih muda bahkan sejak balita sehingga pasien dengan diabetes tipe I dapat melakukan penyesuaian fisik dan psikologis untuk dapat menghadapi dan melakukan perawatan terhadap penyakitnya daripada pada pasien penderita diabetes tipe II.
Salah satu contohnya di ungkapkan oleh penderita diabetes yang ditemui oleh penulis. Penyakit diabetes yang dideritanya sejak tahun 2003 membuat kehidupannya berubah drastis. Penderita harus menjaga pola makannya seperti tidak boleh mengkonsumsi gula maupun makanan manis, menjalani diet, banyak berolahraga minimal berjalan kaki, banyak minum air putih dan buah-buahan, serta melakukan pengecekan gula darah minimal satu bulan sekali. Hari-hari yang membuat beliau sulit adalah ketika menghadiri pesta. Penderita harus lebih selektif memilih makanan yang dimakannya karena salah memilih makanan akan membuat gula darahnya naik. Sepertinya aktivitas-aktivitas tersebut mudah untuk dijalani tetapi terkadang beliau mengalami kejenuhan, seperti ingin bebas mengkonsumsi jenis makanan dan minuman. Perasaan seperti ini akan membuat penderita mengalami frustasi dan stress yang juga mempengaruhi keadaan emosinya.
Emosi seperti yang diungkapkan oleh lazarus (1994), merupakan hasil penilaian kognitif dalam proses pemaknaan yang dilakukan individu atas berbagai kejadian dan pengalaman yang dialaminya, sebagai sesuatu yang positif, negatif, atau netral. Istilah emosi kurang lebih dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang muncul pada manusia. Emosi adalah suatu pengalaman sadar yang mempengaruhi keadaan jasmani, yang menghasilkan pengindraan organis dan kinestetik serta ekspresi dan sorongan perasaan yang kuat. Emosi meliputi unsur perasaan, yang mengikuti keadaan fisiologis, mental, dan batin serta diekspresikan dalam bentuk tingkah laku. Cinta, benci, marah, duka, frustasi, bersalah, dan takut semua adalah emosi yang dimiliki oleh manusia.
Emosi memberikan pengaruh besar pada keadaan jasmani. Ketakutan yang berlebihan, kemarahan yang kuat serta kebimbangan yang dalam, dapat menimbulkan akibat-akibat yang merugikan kesehatan (ahmadi, 1992:65). Hal ini juga yang dialami oleh penderita diabetes. Ketika kondisi emosi penderita diabetes sedang tidak stabil atau mengalami emosi negatif, maka akan mempengaruhi penyakit yang di deritanya.
Cohen dan Williamson meyakini bahwa emosi negatif mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Teori ini juga diamini oleh Dr Candace Pert, seorang ahli tentang stres asal Amerika Serikat. Pert menyatakan bahwa otak menafsirkan stres, rasa marah, dan takut sebagai gangguan. Gangguan ini memicu timbulnya reaksi pada sistem kekebalan tubuh. Ketika kita merasa tertekan, otak akan memerintahkan tubuh melepaskan adrenalin untuk mengobati stres. Jika adrenalin yang dilepaskan terlalu banyak akan berakibat pada timbulnya emosi negatif yang berlebihan, maka tubuh menetralkan dengan melepaskan hormon kortisol. Jika kadar kortisol meningkat, akhirnya terjadi gangguan metabolisme seperti kegemukan, diabetes, hipertensi, serangan jantung, atau penurunan daya ingat. Dengan adanya emosi negatif ini tentunya akan semakin memperparah penyakit diabetes yang diderita (VKS, 2009).
Daftar pustaka
Ahmadi, A. (1992). Psikologi umum(edisi revisi). Surabaya: Bina Ilmu.
Akbar, K., & Afiatin, T. (2009). Pelatihan Manajemen Emosi Sebagai Program Pemulihan Depresi pada Remaja Korban Gempa Bumi. Jurnal Intervensi Psikologi, 1 (1), 107-128.
Ayu,T. M., & Satiadarma, M. P. (2006). Dinamika Emosional Kaum Selibat Dalam Menghadapi Midlife Crisis. Arkhe: Jurnal Ilmiah Psikologi, 10 (2), 59-75.
Djiwatampu, M. L. (2005). Peran Psikologi Dalam Kesehatan. Jurnal Intelektual, 3 (2), 121-128.
Fritz. (2008). Diabetes Mellitus- Diagnosa dan Penatalaksanaannya. Diakses pada tanggal 29 april 2010 dari www.i-comers.com
Hidayati, Dwi. (2009). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Pasien Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Trucuk I Kabupaten Klaten. Thesis. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Lazarus. (1976). Pattern of Adjustment and Human Effectiveness. New york: McGraw Hill Book Company.
Notosoedirjo, M. (2005). Kesehatan mental. Malang: UMM Press.
Rudijianto, Achmat. (2009). Diabetes dan Penanggulangannya. Disampaikan pada acara peringatan hari diabetes dunia.
Scherer, K. R., Wallbott, H. G. & Summerfield, A. B. (1986). Experiencing Emotion A Croos Cultural Study. Cambridge: Cambridge University Press.
Wade, C., & Travis, C. (2003). Psychology (7th edition). United States. McGraw Hill.
(http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Seseorang yang hidup sehat tanpa mengidap penyakit akan lebih bahagia dan positif dalam menjalani hidup. Tetapi bagaimana dengan orang yang harus hidup berdampingan dengan penyakit selama hidupnya? Sudah banyak kita mendengar kisah orang-orang yang dengan sukses hidup berdampingan dengan penyakit yang dideritanya. Mereka yang sukses bertahan dengan penyakitnya adalah orang-orang yang memiliki semangat hidup yang tinggi dan besar untuk melawan penyakitnya. Tetapi banyak juga mereka yang menyerah dengan penyakit yang dideritanya. Penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan ini misalnya diabetes mellitus, kanker, AIDS. Dan yang belakangan paling banyak diperbincangkan adalah diabetes mellitus, karena selain tidak dapat disembuhkan penyakit ini juga merupakan penyakit menurun dan menyebabkan komplikasi.
Diabetes mellitus merupakan penyakit tertua di dunia. Menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Diabetes mellitus dapat ditegakkan dengan adanya tanda-tanda, anamnesis berupa keluhan sering kencing, rasa lapar atau haus berlebihan, dan penurunan berat badan [10-30%]. Selain itu penderita juga menjadi mudah lelah, memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, adanya kelainan pada retina mata atau luka yang sukar sembuh, serta kadar gula darah ketika puasa ³ 126 mg/dL (7.0 mmol/L); kadar gula darah 2 jam setelah makan atau gula darah random ³ 200 mg/dL (11.1 mmol/L) (Fritz, 2008).
Beberapa penyebab diabetes mellitus antara lain: faktor genetik, Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.. faktor non genetik misalnya karena infeksi virus tertentu, obesitas, malnutrisi protein, dan gaya hidup yang tidak sehat misalnya mengkonsumsi alkohol dan kurang berolahraga serta dapat juga dipicu oleh stress (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Angka prevalensi penderita diabetes tanah air berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta jiwa. Angka prevalensi pre-diabetes mencapai dua kali lipatnya atau 11% dari total penduduk Indonesia. Berarti, jumlah penduduk indonesia yang terkena diabetes akan meningkat dua kali lipat dalam beberapa waktu mendatang. Pada daerah seperti Papua Barat memiliki angka prevalensi diabetes terhitung kecil dari angka rata-rata diabetes nasional yaitu berada pada angka 1,7 % namun angka prevalensi prediabetes bisa mencapai 20 kali lipatnya atau sekitar 21.6%. Achmat menambahkan, 50% dari individu yang berada pada posisi pre-diabetes akan menderita diabetes. Terlebih angka individu pre-diabetes tertinggi berada pada rentang usia 12-17 tahun dengan prosentase 27% (Achmat, 2009).
Penyakit diabetes menjadi masalah kesehatan yang utama pada saat ini karena menyebabkan komplikasi. Penderita diabetes mellitus menanggung resiko untuk mengindap penyakit jantung koroner dan hipertensi (tekanan darah tinggi), khususnya penderita diabetes mellitus tipe II (Noer, 1997:700, dalam savitri, 2006). Diabetes mellitus dapat menyebabkan kebutaan dan mengganggu syaraf sehingga tubuh tidak dapat merasakan sensasi. Dalam beberapa kasus, seorang penderita Diabetes Mellitus harus menjalani amputasi karena luka yang meradang di kaki, yang disebut ganggrain. Menurut Tjokroprawino (2001:55), wanita penderita diabetes lebih banyak mengalami gangguan fisik daripada penderita laki-laki, misalnya gangguan pencernaan, tidur, dan migraine. Penderita diabetes harus menjalani pengobatan dan perawatan yang ketat seumur hidupnya untuk mencegah munculnya komplikasi yang parah.
Walaupun diabetes mengganggu sistem fisiologis manusia, kenyataan yang ditemukan di lapangan adalah penderita diabetes juga mengalami gangguan pada kondisi psikisnya. Ini ditandai dengan perubahan perilaku para penderita yang mudah menjadi emosi dan kurang dapat mengendalikan diri dengan baik, terutama dalam menjaga pola makan untuk mengurangi gejala diabetes. Pasien diabetes merasa bahwa penyakit ini mengganggu aktivitas keseharian penderita sehingga kelancaran aktivitas itu sendiri berjalan kurang baik. Hal inilah yang menjadi fokus perhatian karena pengaruh diabetes yang juga mempengaruhi psikis sehingga terjadi perubahan yang cukup mencolok pada perilaku pasien penderitan diabetes. Perubahan kondisi psikis ini diperlihatkan antara lain pada aspek emosional penderita, misalnya muncul emosi yang labil dan sangat tergantung mood pada penderita. Kondisi ini pantas untuk ditanggapi secara serius karena pengaruh yang ditimbulakan oleh perubahan perilaku ini tidaklah hanya dialami oleh pasien tetapi juga dialami oleh anggota keluarga dan kerabat dekat.
Kondisi ini terutama ditemui pada penderita diabetes tipe II yang memiliki kondisi berbeda dengan penderita diabetes tipe I. Pada pasien penderita diabetes tipe I telah mendapat suntikan insulin dan perawatan fisik sejak masih muda bahkan sejak balita sehingga pasien dengan diabetes tipe I dapat melakukan penyesuaian fisik dan psikologis untuk dapat menghadapi dan melakukan perawatan terhadap penyakitnya daripada pada pasien penderita diabetes tipe II.
Salah satu contohnya di ungkapkan oleh penderita diabetes yang ditemui oleh penulis. Penyakit diabetes yang dideritanya sejak tahun 2003 membuat kehidupannya berubah drastis. Penderita harus menjaga pola makannya seperti tidak boleh mengkonsumsi gula maupun makanan manis, menjalani diet, banyak berolahraga minimal berjalan kaki, banyak minum air putih dan buah-buahan, serta melakukan pengecekan gula darah minimal satu bulan sekali. Hari-hari yang membuat beliau sulit adalah ketika menghadiri pesta. Penderita harus lebih selektif memilih makanan yang dimakannya karena salah memilih makanan akan membuat gula darahnya naik. Sepertinya aktivitas-aktivitas tersebut mudah untuk dijalani tetapi terkadang beliau mengalami kejenuhan, seperti ingin bebas mengkonsumsi jenis makanan dan minuman. Perasaan seperti ini akan membuat penderita mengalami frustasi dan stress yang juga mempengaruhi keadaan emosinya.
Emosi seperti yang diungkapkan oleh lazarus (1994), merupakan hasil penilaian kognitif dalam proses pemaknaan yang dilakukan individu atas berbagai kejadian dan pengalaman yang dialaminya, sebagai sesuatu yang positif, negatif, atau netral. Istilah emosi kurang lebih dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang muncul pada manusia. Emosi adalah suatu pengalaman sadar yang mempengaruhi keadaan jasmani, yang menghasilkan pengindraan organis dan kinestetik serta ekspresi dan sorongan perasaan yang kuat. Emosi meliputi unsur perasaan, yang mengikuti keadaan fisiologis, mental, dan batin serta diekspresikan dalam bentuk tingkah laku. Cinta, benci, marah, duka, frustasi, bersalah, dan takut semua adalah emosi yang dimiliki oleh manusia.
Emosi memberikan pengaruh besar pada keadaan jasmani. Ketakutan yang berlebihan, kemarahan yang kuat serta kebimbangan yang dalam, dapat menimbulkan akibat-akibat yang merugikan kesehatan (ahmadi, 1992:65). Hal ini juga yang dialami oleh penderita diabetes. Ketika kondisi emosi penderita diabetes sedang tidak stabil atau mengalami emosi negatif, maka akan mempengaruhi penyakit yang di deritanya.
Cohen dan Williamson meyakini bahwa emosi negatif mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Teori ini juga diamini oleh Dr Candace Pert, seorang ahli tentang stres asal Amerika Serikat. Pert menyatakan bahwa otak menafsirkan stres, rasa marah, dan takut sebagai gangguan. Gangguan ini memicu timbulnya reaksi pada sistem kekebalan tubuh. Ketika kita merasa tertekan, otak akan memerintahkan tubuh melepaskan adrenalin untuk mengobati stres. Jika adrenalin yang dilepaskan terlalu banyak akan berakibat pada timbulnya emosi negatif yang berlebihan, maka tubuh menetralkan dengan melepaskan hormon kortisol. Jika kadar kortisol meningkat, akhirnya terjadi gangguan metabolisme seperti kegemukan, diabetes, hipertensi, serangan jantung, atau penurunan daya ingat. Dengan adanya emosi negatif ini tentunya akan semakin memperparah penyakit diabetes yang diderita (VKS, 2009).
Daftar pustaka
Ahmadi, A. (1992). Psikologi umum(edisi revisi). Surabaya: Bina Ilmu.
Akbar, K., & Afiatin, T. (2009). Pelatihan Manajemen Emosi Sebagai Program Pemulihan Depresi pada Remaja Korban Gempa Bumi. Jurnal Intervensi Psikologi, 1 (1), 107-128.
Ayu,T. M., & Satiadarma, M. P. (2006). Dinamika Emosional Kaum Selibat Dalam Menghadapi Midlife Crisis. Arkhe: Jurnal Ilmiah Psikologi, 10 (2), 59-75.
Djiwatampu, M. L. (2005). Peran Psikologi Dalam Kesehatan. Jurnal Intelektual, 3 (2), 121-128.
Fritz. (2008). Diabetes Mellitus- Diagnosa dan Penatalaksanaannya. Diakses pada tanggal 29 april 2010 dari www.i-comers.com
Hidayati, Dwi. (2009). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Pasien Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Trucuk I Kabupaten Klaten. Thesis. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Lazarus. (1976). Pattern of Adjustment and Human Effectiveness. New york: McGraw Hill Book Company.
Notosoedirjo, M. (2005). Kesehatan mental. Malang: UMM Press.
Rudijianto, Achmat. (2009). Diabetes dan Penanggulangannya. Disampaikan pada acara peringatan hari diabetes dunia.
Scherer, K. R., Wallbott, H. G. & Summerfield, A. B. (1986). Experiencing Emotion A Croos Cultural Study. Cambridge: Cambridge University Press.
Wade, C., & Travis, C. (2003). Psychology (7th edition). United States. McGraw Hill.
(http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).


09.10
justwrite

Posted in 

1 Response to "Emosi Dan Diabetes"
Informasinya sangat bermanfaat gan hatur nuhun, jangan lupa mampir di blog saya DI HERBAL DIABETES ALAMI
Posting Komentar