
Batik merupakan karya seni tradisional yang banyak ditekuni oleh masyarakat Laweyan, maka kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung “Juragan Batik” dan mencapai kejayaannya pada di era 1970-an. Banyak showroom batik di kampung batik yang menarik dan dapat di kunjungi di salah satu daerah wisata ini.
Kampoeng Laweyan merupakan suatu kelurahan yang luas wilayahnya 24.83 ha dengan penduduk sekitar 2500 jiwa. Laweyan adalah kampung batik tertua di Indonesia.
Eksistensi para pengusaha batik/juragan Laweyan sangat terkenal terutama pada jaman keemasan era KH Samanhudi sekitar tahun 1911.
Laweyan juga terkenal dengan bentuk bangunan dan kondisi lingkungan yang khas. Arsitektur rumah tinggal di kampung batik ini umumnya di pengaruhi unsure tradisional Jawa, Eropa(Indisch), China dan Islam. Bangunan-bangunan ini dilengkapi dengan pagar tinggi atau “Beteng” yang menyebabkan terbentuknya gang-gang sempit.
Kampung batik KAUMAN :
Kampung Kauman mempunyai kaitan erat dengan sejarah perpindahan kraton Kartosuro ke Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama "kauman".
Masyarakat kaum (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga kraton.
Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap dan model kombinasi antara tulis dan cap. Batik tulis bermotif pakem yang banyak dipengaruhi oleh seni batik kraton Kasunanan merupakan produk unggulan kampung batik kauman. Produk-produk batik kampung kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon.
Kampung yang memiliki 20-30an home industri ini menjadi langganan dari para pembeli yang sudah terjalin secara turun temurun dan wisatawan mancanegara (Jepang, Eropa, Asia Tenggara dan Amerika Serikat). Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik. Bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
Disamping produk batik, kampung batik Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan Kolonial. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di sekitar kampung kauman ini jelas menyediakan kemudahan-kemudahan khusus bagi segenap wisatawan yang berkunjung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain di luar batik.
Kampung Batik LAWEYAN
06.22
justwrite
Posted in
Diposting oleh
justwrite
Pentingnya Kecerdasan Emosi Bagi Seorang Perawat
06.11
justwrite
Seiring dengan berkembangnya masyarakat Indonesia pada saat ini, maka berkembang pula kebutuhan di bidang kesehatan. Hal ini berdampak pada peningkatan permintaan pelayanan kesehatan baik dari kualitas maupun dari kuantitasnya. Kesehatan merupakan aspek penting yang menjadi perhatian utama setiap orang, maka sudah selayaknya jika masyarakat mendapatkan pelayanan yang terbaik dalam hal ini, baik oleh dokter, perawat, maupun tenaga medis yang lain. Pemberian pelayanan kesehatan yang baik merupakan fokus utama pada setiap negara, begitupula di Indonesia. Namun, kualitas pelayanan yang bermutu sulit untuk dilaksanakan jika kualitas perseorangan dari tenaga medis buruk. Untuk itu mutu pelayanan kesehatan di Indonesia harus ditingkatkan dengan meningkatkan mutu individu-individu yang bergerak dalam bidang medis.
Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, dokter sebagai tenaga medis utama memerlukan bantuan dari tenaga medis yang lain khususnya perawat yang bertugas memberi perawatan pada saat pasien sebelum atau sesudah dilakukan tindakan medis.
Perawat adalah tenaga profesional dibidang perawatan kesehatan yang terlibat dalam kegiatan perawatan. Perawat bertanggung jawab dalam kegiatan perawatan, perlindungan, dan pemulihan orang yang luka atau pasien penderita penyakit kronis, pemeliharaan kesehatan orang sehat dan penanganan keadaan darurat yang mengancam nyawa dalam berbagai jenis kesehatan. Perawat juga dapat terlibat dalam riset medis dan perawatan serta menjalankan berbagaia macam fungsi non klinis yang digunakan untuk perawatan kesehatan (Wikipedia.com).
Peran perawat secara umum adalah memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang kompleks dan memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat harus memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien. Sedangakan fungsi perawat adalah sebagai pembela klien, konselor dan educator.
Untuk dapat menjalankan peran-peran tersebut ada beberapa karakteristik seorang perawat yang harus dipenuhi. Untuk menjadi seorang perawat yang baik, seseorang harus mempunyai rasa peduli, empati, dan penuh belas kasih untuk memberikan pasien layanan yang terbaik. Seorang perawat juga harus bertanggung jawab dan berorientasi pada tugas keperawatan yang bersifat detail misalnya membuat catatan yang akurat, bekerja dengan peralatan medis yang mahal atau obat dengan dosis tinggi. Kestabilan emosional juga sangat penting karena seorang perawat mungkin sering menghadapi keadaan darurat, misalnya orang sakit dengan keluarga yang tertekan serta situasi sulit lainnya. The American Nurses Association juga mencatat bahwa perawat yang baik mampu bertindak sebagai advokasi bagi pasien, mampu beradaptasi dan terdidik.
Keberhasilan suatu bisnis, termasuk juga dalam industri rumah sakit, sebagian besar tergantung pada layanan berkualitas tinggi. Kualitas pelayanan telah menjadi variabel strategis kunci dalam usaha organisasi untuk memuaskan dan mempertahankan pelanggan atau menarik pelanggan baru.
Kualitas jasa didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para konsumen atas jasa yang mereka peroleh atau terima (Parasuraman, 1997). Dalam industri rumah sakit, pelayanan para tenaga medis merupakan kunci pokok keberhasilan pelayanan rumah sakit tersebut karena tenaga medis inilah yang secara langsung berhubungan dan memberi pelayanan pada pasien. Tenaga medis yang memiliki intensitas tinggi dalam berhubungan langsung dengan pasien adalah perawat, untuk itu pelayanan perawat sangat penting pada industri rumah sakit.
Pemerintah telah berusaha memenuhi kebutuhan masayarakat akan pelayanan kesehatan dengan mendirikan beberapa Rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia. Namun, usaha pemerintah ini masih belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Masih banyak masyarakat yang mengeluh tentang berbagai masalah pelayanan di rumah sakit milik pemerintah. Seiring dengan hal tersebut, banyak orang yang mendirikan rumah sakit swata baik di kota maupun di daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pemenuhan pelayanan kesehatan yang layak.
Menteri kesehatan Indonesia mengakui bahwa kualitas keseluruhan pelayanan rumah sakit di Indonesia adalah miskin (www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/21/time/162107/idnews/4 26110/idkanal/10 ). Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya warga Indonesia yang memilih mendapatkan perawatan kesehatan di luar negeri. Dilaporkan bahwa jumlah Indonesia pergi ke luar negeri untuk tes kesehatan dan perawatan tumbuh secara signifikan. Sekitar 72.000 warga Indonesia bepergian ke Singapura setiap tahun untuk alasan medis (http://64.203.71.11/ver1/Kesehatan/0701/12/222443.htm). Untuk itu masalah-masalah kualitas pelayanan ini menjadi fokus utama pada industri rumah sakit di Indonesia, karena kualitas pelayanan inilah yang dianggap sebagai alasan utama pasien memilih rumah sakit mana yang akan dituju.
Dengan makin banyaknya rumah sakit yang tersebar diseluruh Indonesia, maka dapat dipastikan ketatnya persaingan diantara rumah sakit untuk merebut konsumen akan terjadi. Tentunya konsumen akan dihadapkan pada banyak pilihan atau alternatif yang ada. Oleh karena itu setiap rumah sakit perlu mengetahui bagaimana mengolah dan mengembangkan kualitas layanannya agar menjadi lebih baik. Salah satunya adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Jombang merupakan rumah sakit milik pemerintah Kabupaten Jombang. RSUD Jombang menyediakan berbagai macam bentuk pelayanan dan fasilitas. Namun dari hasil penelitian sebelumnya, hal ini belum cukup memberikan kepuasan kepada pasien karena dalam kurun tiga tahun terakhir jumlah pasien rawat inap di RSUD Jombang menurun serta adanya komplain dari pasien tentang pelayanan yang ada. Dari analisa yang dilakukan ternyata hasilnya menunjukan bahwa 19 faktor/ atribut jasa yang diteliti menjadi penyebab ketidakpuasan pasien, tetapi untuk peningkatan kualitas pelayanan/ jasa harus dibuat prioritas sehingga tidak membuang sumber daya perusahaan. Dengan menggunakan metode Sevqual Fuzzy didapatkan empat atribut yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan kualitas jasanya karena memiliki nilai Servqual (Gap) terbobot paling besar. Atribut-atribut itu adalah Kesopanan dan keramahan dokter dan perawat dengan gap sebesar - 0,44, pelayanan kepada semua pasien tanpa memandang bulu status sosial dengan gap sebesar - 0,36, jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat dengan gap sebesar - 0,26, dan kebersihan kamar mandi dengan gap sebesar - 0,13(). Dari hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa keramahan tenaga medis terutama perawat adalah atribut yang memiliki gap paling besar dan harus ditingkatkan kualitas jasanya. Bila aspek itu dilupakan, maka RSUD Jombang bisa kehilangan pelanggan lama dan dijauhi calon pelanggan.
Kualitas pelayanan ditentukan oleh banyak variable, salah satunya adalah kecerdasan emosi. Menurut penelitian sebelumnya sebagai penyedia jasa tentunya kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perilaku pelanggan. Dengan menggunakan kecerdasan emosi, organisasi dapat meningkatkan pengetahuan tentang pelanggan dan kemampuan untuk mengenali serta mengatur kualitas layanan sesuai ndengan keinginan pelanggan (Hummayoun Naeem dkk,2008)
Seorang perawat dituntut untuk tidak hanya memiliki IQ yang bagus tetapi juga EQ yang “tidak biasa”. Penelitian tentang kecerdasan emosional telah memperlihatkan bahwa EQ adalah penilaian yang bisa mencegah munculnya perilaku yang buruk. Stigma negatif yang menyatakan bahwa perawat itu ‘judes’, ‘cuek’, ‘pemarah’, dan stigma-stigma negatif lain akan mampu dihilangkan jika perawat mampu memiliki kecerdasan emosional yang baik. (keperawatan.net, 2010).
Menurut Goleman (1997), kecerdasan emosi atau Emotional Quotient (EQ) adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui ketrampilan kesadaran diri, motivasi diri, empati dan ketrampilan sosial.
Para perawat dalam pekerjaannya sehari-hari hampir selalu melibatkan perasaan dan emosi, sehingga perawat dituntut untuk memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Secara khusus para perawat rumah sakit membutuhkan kecerdasan emosi yang tinggi karena mereka mewakili organisasi untuk berinteraksi dengan banyak orang baik di dalam maupun di luar organisasi. Perawat yang memiliki empati akan dapat memahami kebutuhan orang atau keluarga yang dirawatnya dan dapat memberikan solusi yang konstruktif.
Seorang perawat yang tidak mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dapat ditandai dengan hal-hal berikut: mempunyai emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya, dan tidak sensitive terhadap perasaan orang lain. Orang yang tidak mempunyai kecerdasan emosi tinggi biasanya mempunyai kecenderungan menyakiti dan memusuhi orang lain. Dalam dunia kerja, orang-orang yang mempunyai kecerdasana emosional yang tinggi sangat diperlukan terlebih dalam tim untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen.Contoh perawat Filipina, mereka merupakan perawat yang dicari di pasaran International karena kemampuan emosional yang baik. Sebab selain kecerdasan intelektual perawat juga membutuhkan kecerdasan emosional “tak mudah putus asa, tak mudah marah, sabar, berbeda pendapat dengan santun, lebih mengacu pada solusi bukan pada konflik merupakan contoh perawat yang memiliki kecerdasan emosi”. “Orang berobat ke Singapura atau kucing bukan hanya karena tindakan medis disana lebih baik, tetapi salah satu faktornya adalah karena sikap perawat disana lebih familiar “ (Yosep, 2005)
DAFTAR PUSTAKA
(www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/21/time/162107/idnews/4 26110/idkanal/10 ).
(http://64.203.71.11/ver1/Kesehatan/0701/12/222443.htm)
Sakura, luna. 2008. Peningkatan Kualitas Pelayanan Jasa Kesehatan di Instalasi Rawat Inap Dengan Menggunakan Servqual-Fuzzy. Skripsi. Sekolah tinggi keperawatan: Jombang
Www.Keperawatan.net
Goleman, Daniel. 1997. EQ, Kecerdasan Emosional (Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ ). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Yosep, Iyus. 2005. Pentingnya ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Bagi Perawat Dalam Management Konflik: Disampaikan Dalam Acara: Cerdas Kreatif Berwawasan dan Mandiri (CEREBRI) Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD.
Naeem, Hummayoun, dkk. 2008. Service Quality – Empirical Evidence Service Quality. International Business & Economics Research Journal. Volume 7, Number 12 Volume 7, Nomor 12.
Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, dokter sebagai tenaga medis utama memerlukan bantuan dari tenaga medis yang lain khususnya perawat yang bertugas memberi perawatan pada saat pasien sebelum atau sesudah dilakukan tindakan medis.
Perawat adalah tenaga profesional dibidang perawatan kesehatan yang terlibat dalam kegiatan perawatan. Perawat bertanggung jawab dalam kegiatan perawatan, perlindungan, dan pemulihan orang yang luka atau pasien penderita penyakit kronis, pemeliharaan kesehatan orang sehat dan penanganan keadaan darurat yang mengancam nyawa dalam berbagai jenis kesehatan. Perawat juga dapat terlibat dalam riset medis dan perawatan serta menjalankan berbagaia macam fungsi non klinis yang digunakan untuk perawatan kesehatan (Wikipedia.com).
Peran perawat secara umum adalah memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang kompleks dan memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat harus memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien. Sedangakan fungsi perawat adalah sebagai pembela klien, konselor dan educator.
Untuk dapat menjalankan peran-peran tersebut ada beberapa karakteristik seorang perawat yang harus dipenuhi. Untuk menjadi seorang perawat yang baik, seseorang harus mempunyai rasa peduli, empati, dan penuh belas kasih untuk memberikan pasien layanan yang terbaik. Seorang perawat juga harus bertanggung jawab dan berorientasi pada tugas keperawatan yang bersifat detail misalnya membuat catatan yang akurat, bekerja dengan peralatan medis yang mahal atau obat dengan dosis tinggi. Kestabilan emosional juga sangat penting karena seorang perawat mungkin sering menghadapi keadaan darurat, misalnya orang sakit dengan keluarga yang tertekan serta situasi sulit lainnya. The American Nurses Association juga mencatat bahwa perawat yang baik mampu bertindak sebagai advokasi bagi pasien, mampu beradaptasi dan terdidik.
Keberhasilan suatu bisnis, termasuk juga dalam industri rumah sakit, sebagian besar tergantung pada layanan berkualitas tinggi. Kualitas pelayanan telah menjadi variabel strategis kunci dalam usaha organisasi untuk memuaskan dan mempertahankan pelanggan atau menarik pelanggan baru.
Kualitas jasa didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para konsumen atas jasa yang mereka peroleh atau terima (Parasuraman, 1997). Dalam industri rumah sakit, pelayanan para tenaga medis merupakan kunci pokok keberhasilan pelayanan rumah sakit tersebut karena tenaga medis inilah yang secara langsung berhubungan dan memberi pelayanan pada pasien. Tenaga medis yang memiliki intensitas tinggi dalam berhubungan langsung dengan pasien adalah perawat, untuk itu pelayanan perawat sangat penting pada industri rumah sakit.
Pemerintah telah berusaha memenuhi kebutuhan masayarakat akan pelayanan kesehatan dengan mendirikan beberapa Rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia. Namun, usaha pemerintah ini masih belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Masih banyak masyarakat yang mengeluh tentang berbagai masalah pelayanan di rumah sakit milik pemerintah. Seiring dengan hal tersebut, banyak orang yang mendirikan rumah sakit swata baik di kota maupun di daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pemenuhan pelayanan kesehatan yang layak.
Menteri kesehatan Indonesia mengakui bahwa kualitas keseluruhan pelayanan rumah sakit di Indonesia adalah miskin (www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/21/time/162107/idnews/4 26110/idkanal/10 ). Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya warga Indonesia yang memilih mendapatkan perawatan kesehatan di luar negeri. Dilaporkan bahwa jumlah Indonesia pergi ke luar negeri untuk tes kesehatan dan perawatan tumbuh secara signifikan. Sekitar 72.000 warga Indonesia bepergian ke Singapura setiap tahun untuk alasan medis (http://64.203.71.11/ver1/Kesehatan/0701/12/222443.htm). Untuk itu masalah-masalah kualitas pelayanan ini menjadi fokus utama pada industri rumah sakit di Indonesia, karena kualitas pelayanan inilah yang dianggap sebagai alasan utama pasien memilih rumah sakit mana yang akan dituju.
Dengan makin banyaknya rumah sakit yang tersebar diseluruh Indonesia, maka dapat dipastikan ketatnya persaingan diantara rumah sakit untuk merebut konsumen akan terjadi. Tentunya konsumen akan dihadapkan pada banyak pilihan atau alternatif yang ada. Oleh karena itu setiap rumah sakit perlu mengetahui bagaimana mengolah dan mengembangkan kualitas layanannya agar menjadi lebih baik. Salah satunya adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Jombang merupakan rumah sakit milik pemerintah Kabupaten Jombang. RSUD Jombang menyediakan berbagai macam bentuk pelayanan dan fasilitas. Namun dari hasil penelitian sebelumnya, hal ini belum cukup memberikan kepuasan kepada pasien karena dalam kurun tiga tahun terakhir jumlah pasien rawat inap di RSUD Jombang menurun serta adanya komplain dari pasien tentang pelayanan yang ada. Dari analisa yang dilakukan ternyata hasilnya menunjukan bahwa 19 faktor/ atribut jasa yang diteliti menjadi penyebab ketidakpuasan pasien, tetapi untuk peningkatan kualitas pelayanan/ jasa harus dibuat prioritas sehingga tidak membuang sumber daya perusahaan. Dengan menggunakan metode Sevqual Fuzzy didapatkan empat atribut yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan kualitas jasanya karena memiliki nilai Servqual (Gap) terbobot paling besar. Atribut-atribut itu adalah Kesopanan dan keramahan dokter dan perawat dengan gap sebesar - 0,44, pelayanan kepada semua pasien tanpa memandang bulu status sosial dengan gap sebesar - 0,36, jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat dengan gap sebesar - 0,26, dan kebersihan kamar mandi dengan gap sebesar - 0,13(). Dari hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa keramahan tenaga medis terutama perawat adalah atribut yang memiliki gap paling besar dan harus ditingkatkan kualitas jasanya. Bila aspek itu dilupakan, maka RSUD Jombang bisa kehilangan pelanggan lama dan dijauhi calon pelanggan.
Kualitas pelayanan ditentukan oleh banyak variable, salah satunya adalah kecerdasan emosi. Menurut penelitian sebelumnya sebagai penyedia jasa tentunya kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perilaku pelanggan. Dengan menggunakan kecerdasan emosi, organisasi dapat meningkatkan pengetahuan tentang pelanggan dan kemampuan untuk mengenali serta mengatur kualitas layanan sesuai ndengan keinginan pelanggan (Hummayoun Naeem dkk,2008)
Seorang perawat dituntut untuk tidak hanya memiliki IQ yang bagus tetapi juga EQ yang “tidak biasa”. Penelitian tentang kecerdasan emosional telah memperlihatkan bahwa EQ adalah penilaian yang bisa mencegah munculnya perilaku yang buruk. Stigma negatif yang menyatakan bahwa perawat itu ‘judes’, ‘cuek’, ‘pemarah’, dan stigma-stigma negatif lain akan mampu dihilangkan jika perawat mampu memiliki kecerdasan emosional yang baik. (keperawatan.net, 2010).
Menurut Goleman (1997), kecerdasan emosi atau Emotional Quotient (EQ) adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui ketrampilan kesadaran diri, motivasi diri, empati dan ketrampilan sosial.
Para perawat dalam pekerjaannya sehari-hari hampir selalu melibatkan perasaan dan emosi, sehingga perawat dituntut untuk memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Secara khusus para perawat rumah sakit membutuhkan kecerdasan emosi yang tinggi karena mereka mewakili organisasi untuk berinteraksi dengan banyak orang baik di dalam maupun di luar organisasi. Perawat yang memiliki empati akan dapat memahami kebutuhan orang atau keluarga yang dirawatnya dan dapat memberikan solusi yang konstruktif.
Seorang perawat yang tidak mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dapat ditandai dengan hal-hal berikut: mempunyai emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya, dan tidak sensitive terhadap perasaan orang lain. Orang yang tidak mempunyai kecerdasan emosi tinggi biasanya mempunyai kecenderungan menyakiti dan memusuhi orang lain. Dalam dunia kerja, orang-orang yang mempunyai kecerdasana emosional yang tinggi sangat diperlukan terlebih dalam tim untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen.Contoh perawat Filipina, mereka merupakan perawat yang dicari di pasaran International karena kemampuan emosional yang baik. Sebab selain kecerdasan intelektual perawat juga membutuhkan kecerdasan emosional “tak mudah putus asa, tak mudah marah, sabar, berbeda pendapat dengan santun, lebih mengacu pada solusi bukan pada konflik merupakan contoh perawat yang memiliki kecerdasan emosi”. “Orang berobat ke Singapura atau kucing bukan hanya karena tindakan medis disana lebih baik, tetapi salah satu faktornya adalah karena sikap perawat disana lebih familiar “ (Yosep, 2005)
DAFTAR PUSTAKA
(www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/21/time/162107/idnews/4 26110/idkanal/10 ).
(http://64.203.71.11/ver1/Kesehatan/0701/12/222443.htm)
Sakura, luna. 2008. Peningkatan Kualitas Pelayanan Jasa Kesehatan di Instalasi Rawat Inap Dengan Menggunakan Servqual-Fuzzy. Skripsi. Sekolah tinggi keperawatan: Jombang
Www.Keperawatan.net
Goleman, Daniel. 1997. EQ, Kecerdasan Emosional (Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ ). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Yosep, Iyus. 2005. Pentingnya ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Bagi Perawat Dalam Management Konflik: Disampaikan Dalam Acara: Cerdas Kreatif Berwawasan dan Mandiri (CEREBRI) Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD.
Naeem, Hummayoun, dkk. 2008. Service Quality – Empirical Evidence Service Quality. International Business & Economics Research Journal. Volume 7, Number 12 Volume 7, Nomor 12.
Posted in
Diposting oleh
justwrite
Emosi Dan Diabetes
09.10
justwrite
Manusia hidup di dunia memiliki beberapa aspek penting dalam hidup, salah satu yang harus dijaga adalah kesehatan. Setiap individu memiliki keinginan untuk tetap sehat dan dapat melakukan kegiatan sesuai yang dikehendaki. Menurut WHO, kondisi sehat yang dimiliki setiap manusia yaitu keadaan yang sempurna baik fisik, mental, maupun social, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan atau cacat (Notosoedirjo, 2005:3). Pengertian kesehatan yang dikemukakan WHO ini merupakan suatu keadaan ideal dari sisi biologis, psikologis dan sosial.
Seseorang yang hidup sehat tanpa mengidap penyakit akan lebih bahagia dan positif dalam menjalani hidup. Tetapi bagaimana dengan orang yang harus hidup berdampingan dengan penyakit selama hidupnya? Sudah banyak kita mendengar kisah orang-orang yang dengan sukses hidup berdampingan dengan penyakit yang dideritanya. Mereka yang sukses bertahan dengan penyakitnya adalah orang-orang yang memiliki semangat hidup yang tinggi dan besar untuk melawan penyakitnya. Tetapi banyak juga mereka yang menyerah dengan penyakit yang dideritanya. Penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan ini misalnya diabetes mellitus, kanker, AIDS. Dan yang belakangan paling banyak diperbincangkan adalah diabetes mellitus, karena selain tidak dapat disembuhkan penyakit ini juga merupakan penyakit menurun dan menyebabkan komplikasi.
Diabetes mellitus merupakan penyakit tertua di dunia. Menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Diabetes mellitus dapat ditegakkan dengan adanya tanda-tanda, anamnesis berupa keluhan sering kencing, rasa lapar atau haus berlebihan, dan penurunan berat badan [10-30%]. Selain itu penderita juga menjadi mudah lelah, memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, adanya kelainan pada retina mata atau luka yang sukar sembuh, serta kadar gula darah ketika puasa ³ 126 mg/dL (7.0 mmol/L); kadar gula darah 2 jam setelah makan atau gula darah random ³ 200 mg/dL (11.1 mmol/L) (Fritz, 2008).
Beberapa penyebab diabetes mellitus antara lain: faktor genetik, Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.. faktor non genetik misalnya karena infeksi virus tertentu, obesitas, malnutrisi protein, dan gaya hidup yang tidak sehat misalnya mengkonsumsi alkohol dan kurang berolahraga serta dapat juga dipicu oleh stress (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Angka prevalensi penderita diabetes tanah air berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta jiwa. Angka prevalensi pre-diabetes mencapai dua kali lipatnya atau 11% dari total penduduk Indonesia. Berarti, jumlah penduduk indonesia yang terkena diabetes akan meningkat dua kali lipat dalam beberapa waktu mendatang. Pada daerah seperti Papua Barat memiliki angka prevalensi diabetes terhitung kecil dari angka rata-rata diabetes nasional yaitu berada pada angka 1,7 % namun angka prevalensi prediabetes bisa mencapai 20 kali lipatnya atau sekitar 21.6%. Achmat menambahkan, 50% dari individu yang berada pada posisi pre-diabetes akan menderita diabetes. Terlebih angka individu pre-diabetes tertinggi berada pada rentang usia 12-17 tahun dengan prosentase 27% (Achmat, 2009).
Penyakit diabetes menjadi masalah kesehatan yang utama pada saat ini karena menyebabkan komplikasi. Penderita diabetes mellitus menanggung resiko untuk mengindap penyakit jantung koroner dan hipertensi (tekanan darah tinggi), khususnya penderita diabetes mellitus tipe II (Noer, 1997:700, dalam savitri, 2006). Diabetes mellitus dapat menyebabkan kebutaan dan mengganggu syaraf sehingga tubuh tidak dapat merasakan sensasi. Dalam beberapa kasus, seorang penderita Diabetes Mellitus harus menjalani amputasi karena luka yang meradang di kaki, yang disebut ganggrain. Menurut Tjokroprawino (2001:55), wanita penderita diabetes lebih banyak mengalami gangguan fisik daripada penderita laki-laki, misalnya gangguan pencernaan, tidur, dan migraine. Penderita diabetes harus menjalani pengobatan dan perawatan yang ketat seumur hidupnya untuk mencegah munculnya komplikasi yang parah.
Walaupun diabetes mengganggu sistem fisiologis manusia, kenyataan yang ditemukan di lapangan adalah penderita diabetes juga mengalami gangguan pada kondisi psikisnya. Ini ditandai dengan perubahan perilaku para penderita yang mudah menjadi emosi dan kurang dapat mengendalikan diri dengan baik, terutama dalam menjaga pola makan untuk mengurangi gejala diabetes. Pasien diabetes merasa bahwa penyakit ini mengganggu aktivitas keseharian penderita sehingga kelancaran aktivitas itu sendiri berjalan kurang baik. Hal inilah yang menjadi fokus perhatian karena pengaruh diabetes yang juga mempengaruhi psikis sehingga terjadi perubahan yang cukup mencolok pada perilaku pasien penderitan diabetes. Perubahan kondisi psikis ini diperlihatkan antara lain pada aspek emosional penderita, misalnya muncul emosi yang labil dan sangat tergantung mood pada penderita. Kondisi ini pantas untuk ditanggapi secara serius karena pengaruh yang ditimbulakan oleh perubahan perilaku ini tidaklah hanya dialami oleh pasien tetapi juga dialami oleh anggota keluarga dan kerabat dekat.
Kondisi ini terutama ditemui pada penderita diabetes tipe II yang memiliki kondisi berbeda dengan penderita diabetes tipe I. Pada pasien penderita diabetes tipe I telah mendapat suntikan insulin dan perawatan fisik sejak masih muda bahkan sejak balita sehingga pasien dengan diabetes tipe I dapat melakukan penyesuaian fisik dan psikologis untuk dapat menghadapi dan melakukan perawatan terhadap penyakitnya daripada pada pasien penderita diabetes tipe II.
Salah satu contohnya di ungkapkan oleh penderita diabetes yang ditemui oleh penulis. Penyakit diabetes yang dideritanya sejak tahun 2003 membuat kehidupannya berubah drastis. Penderita harus menjaga pola makannya seperti tidak boleh mengkonsumsi gula maupun makanan manis, menjalani diet, banyak berolahraga minimal berjalan kaki, banyak minum air putih dan buah-buahan, serta melakukan pengecekan gula darah minimal satu bulan sekali. Hari-hari yang membuat beliau sulit adalah ketika menghadiri pesta. Penderita harus lebih selektif memilih makanan yang dimakannya karena salah memilih makanan akan membuat gula darahnya naik. Sepertinya aktivitas-aktivitas tersebut mudah untuk dijalani tetapi terkadang beliau mengalami kejenuhan, seperti ingin bebas mengkonsumsi jenis makanan dan minuman. Perasaan seperti ini akan membuat penderita mengalami frustasi dan stress yang juga mempengaruhi keadaan emosinya.
Emosi seperti yang diungkapkan oleh lazarus (1994), merupakan hasil penilaian kognitif dalam proses pemaknaan yang dilakukan individu atas berbagai kejadian dan pengalaman yang dialaminya, sebagai sesuatu yang positif, negatif, atau netral. Istilah emosi kurang lebih dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang muncul pada manusia. Emosi adalah suatu pengalaman sadar yang mempengaruhi keadaan jasmani, yang menghasilkan pengindraan organis dan kinestetik serta ekspresi dan sorongan perasaan yang kuat. Emosi meliputi unsur perasaan, yang mengikuti keadaan fisiologis, mental, dan batin serta diekspresikan dalam bentuk tingkah laku. Cinta, benci, marah, duka, frustasi, bersalah, dan takut semua adalah emosi yang dimiliki oleh manusia.
Emosi memberikan pengaruh besar pada keadaan jasmani. Ketakutan yang berlebihan, kemarahan yang kuat serta kebimbangan yang dalam, dapat menimbulkan akibat-akibat yang merugikan kesehatan (ahmadi, 1992:65). Hal ini juga yang dialami oleh penderita diabetes. Ketika kondisi emosi penderita diabetes sedang tidak stabil atau mengalami emosi negatif, maka akan mempengaruhi penyakit yang di deritanya.
Cohen dan Williamson meyakini bahwa emosi negatif mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Teori ini juga diamini oleh Dr Candace Pert, seorang ahli tentang stres asal Amerika Serikat. Pert menyatakan bahwa otak menafsirkan stres, rasa marah, dan takut sebagai gangguan. Gangguan ini memicu timbulnya reaksi pada sistem kekebalan tubuh. Ketika kita merasa tertekan, otak akan memerintahkan tubuh melepaskan adrenalin untuk mengobati stres. Jika adrenalin yang dilepaskan terlalu banyak akan berakibat pada timbulnya emosi negatif yang berlebihan, maka tubuh menetralkan dengan melepaskan hormon kortisol. Jika kadar kortisol meningkat, akhirnya terjadi gangguan metabolisme seperti kegemukan, diabetes, hipertensi, serangan jantung, atau penurunan daya ingat. Dengan adanya emosi negatif ini tentunya akan semakin memperparah penyakit diabetes yang diderita (VKS, 2009).
Daftar pustaka
Ahmadi, A. (1992). Psikologi umum(edisi revisi). Surabaya: Bina Ilmu.
Akbar, K., & Afiatin, T. (2009). Pelatihan Manajemen Emosi Sebagai Program Pemulihan Depresi pada Remaja Korban Gempa Bumi. Jurnal Intervensi Psikologi, 1 (1), 107-128.
Ayu,T. M., & Satiadarma, M. P. (2006). Dinamika Emosional Kaum Selibat Dalam Menghadapi Midlife Crisis. Arkhe: Jurnal Ilmiah Psikologi, 10 (2), 59-75.
Djiwatampu, M. L. (2005). Peran Psikologi Dalam Kesehatan. Jurnal Intelektual, 3 (2), 121-128.
Fritz. (2008). Diabetes Mellitus- Diagnosa dan Penatalaksanaannya. Diakses pada tanggal 29 april 2010 dari www.i-comers.com
Hidayati, Dwi. (2009). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Pasien Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Trucuk I Kabupaten Klaten. Thesis. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Lazarus. (1976). Pattern of Adjustment and Human Effectiveness. New york: McGraw Hill Book Company.
Notosoedirjo, M. (2005). Kesehatan mental. Malang: UMM Press.
Rudijianto, Achmat. (2009). Diabetes dan Penanggulangannya. Disampaikan pada acara peringatan hari diabetes dunia.
Scherer, K. R., Wallbott, H. G. & Summerfield, A. B. (1986). Experiencing Emotion A Croos Cultural Study. Cambridge: Cambridge University Press.
Wade, C., & Travis, C. (2003). Psychology (7th edition). United States. McGraw Hill.
(http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Seseorang yang hidup sehat tanpa mengidap penyakit akan lebih bahagia dan positif dalam menjalani hidup. Tetapi bagaimana dengan orang yang harus hidup berdampingan dengan penyakit selama hidupnya? Sudah banyak kita mendengar kisah orang-orang yang dengan sukses hidup berdampingan dengan penyakit yang dideritanya. Mereka yang sukses bertahan dengan penyakitnya adalah orang-orang yang memiliki semangat hidup yang tinggi dan besar untuk melawan penyakitnya. Tetapi banyak juga mereka yang menyerah dengan penyakit yang dideritanya. Penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan ini misalnya diabetes mellitus, kanker, AIDS. Dan yang belakangan paling banyak diperbincangkan adalah diabetes mellitus, karena selain tidak dapat disembuhkan penyakit ini juga merupakan penyakit menurun dan menyebabkan komplikasi.
Diabetes mellitus merupakan penyakit tertua di dunia. Menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Diabetes mellitus dapat ditegakkan dengan adanya tanda-tanda, anamnesis berupa keluhan sering kencing, rasa lapar atau haus berlebihan, dan penurunan berat badan [10-30%]. Selain itu penderita juga menjadi mudah lelah, memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, adanya kelainan pada retina mata atau luka yang sukar sembuh, serta kadar gula darah ketika puasa ³ 126 mg/dL (7.0 mmol/L); kadar gula darah 2 jam setelah makan atau gula darah random ³ 200 mg/dL (11.1 mmol/L) (Fritz, 2008).
Beberapa penyebab diabetes mellitus antara lain: faktor genetik, Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8, 33 % dan 5, 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1, 96 %.. faktor non genetik misalnya karena infeksi virus tertentu, obesitas, malnutrisi protein, dan gaya hidup yang tidak sehat misalnya mengkonsumsi alkohol dan kurang berolahraga serta dapat juga dipicu oleh stress (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Angka prevalensi penderita diabetes tanah air berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta jiwa. Angka prevalensi pre-diabetes mencapai dua kali lipatnya atau 11% dari total penduduk Indonesia. Berarti, jumlah penduduk indonesia yang terkena diabetes akan meningkat dua kali lipat dalam beberapa waktu mendatang. Pada daerah seperti Papua Barat memiliki angka prevalensi diabetes terhitung kecil dari angka rata-rata diabetes nasional yaitu berada pada angka 1,7 % namun angka prevalensi prediabetes bisa mencapai 20 kali lipatnya atau sekitar 21.6%. Achmat menambahkan, 50% dari individu yang berada pada posisi pre-diabetes akan menderita diabetes. Terlebih angka individu pre-diabetes tertinggi berada pada rentang usia 12-17 tahun dengan prosentase 27% (Achmat, 2009).
Penyakit diabetes menjadi masalah kesehatan yang utama pada saat ini karena menyebabkan komplikasi. Penderita diabetes mellitus menanggung resiko untuk mengindap penyakit jantung koroner dan hipertensi (tekanan darah tinggi), khususnya penderita diabetes mellitus tipe II (Noer, 1997:700, dalam savitri, 2006). Diabetes mellitus dapat menyebabkan kebutaan dan mengganggu syaraf sehingga tubuh tidak dapat merasakan sensasi. Dalam beberapa kasus, seorang penderita Diabetes Mellitus harus menjalani amputasi karena luka yang meradang di kaki, yang disebut ganggrain. Menurut Tjokroprawino (2001:55), wanita penderita diabetes lebih banyak mengalami gangguan fisik daripada penderita laki-laki, misalnya gangguan pencernaan, tidur, dan migraine. Penderita diabetes harus menjalani pengobatan dan perawatan yang ketat seumur hidupnya untuk mencegah munculnya komplikasi yang parah.
Walaupun diabetes mengganggu sistem fisiologis manusia, kenyataan yang ditemukan di lapangan adalah penderita diabetes juga mengalami gangguan pada kondisi psikisnya. Ini ditandai dengan perubahan perilaku para penderita yang mudah menjadi emosi dan kurang dapat mengendalikan diri dengan baik, terutama dalam menjaga pola makan untuk mengurangi gejala diabetes. Pasien diabetes merasa bahwa penyakit ini mengganggu aktivitas keseharian penderita sehingga kelancaran aktivitas itu sendiri berjalan kurang baik. Hal inilah yang menjadi fokus perhatian karena pengaruh diabetes yang juga mempengaruhi psikis sehingga terjadi perubahan yang cukup mencolok pada perilaku pasien penderitan diabetes. Perubahan kondisi psikis ini diperlihatkan antara lain pada aspek emosional penderita, misalnya muncul emosi yang labil dan sangat tergantung mood pada penderita. Kondisi ini pantas untuk ditanggapi secara serius karena pengaruh yang ditimbulakan oleh perubahan perilaku ini tidaklah hanya dialami oleh pasien tetapi juga dialami oleh anggota keluarga dan kerabat dekat.
Kondisi ini terutama ditemui pada penderita diabetes tipe II yang memiliki kondisi berbeda dengan penderita diabetes tipe I. Pada pasien penderita diabetes tipe I telah mendapat suntikan insulin dan perawatan fisik sejak masih muda bahkan sejak balita sehingga pasien dengan diabetes tipe I dapat melakukan penyesuaian fisik dan psikologis untuk dapat menghadapi dan melakukan perawatan terhadap penyakitnya daripada pada pasien penderita diabetes tipe II.
Salah satu contohnya di ungkapkan oleh penderita diabetes yang ditemui oleh penulis. Penyakit diabetes yang dideritanya sejak tahun 2003 membuat kehidupannya berubah drastis. Penderita harus menjaga pola makannya seperti tidak boleh mengkonsumsi gula maupun makanan manis, menjalani diet, banyak berolahraga minimal berjalan kaki, banyak minum air putih dan buah-buahan, serta melakukan pengecekan gula darah minimal satu bulan sekali. Hari-hari yang membuat beliau sulit adalah ketika menghadiri pesta. Penderita harus lebih selektif memilih makanan yang dimakannya karena salah memilih makanan akan membuat gula darahnya naik. Sepertinya aktivitas-aktivitas tersebut mudah untuk dijalani tetapi terkadang beliau mengalami kejenuhan, seperti ingin bebas mengkonsumsi jenis makanan dan minuman. Perasaan seperti ini akan membuat penderita mengalami frustasi dan stress yang juga mempengaruhi keadaan emosinya.
Emosi seperti yang diungkapkan oleh lazarus (1994), merupakan hasil penilaian kognitif dalam proses pemaknaan yang dilakukan individu atas berbagai kejadian dan pengalaman yang dialaminya, sebagai sesuatu yang positif, negatif, atau netral. Istilah emosi kurang lebih dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang muncul pada manusia. Emosi adalah suatu pengalaman sadar yang mempengaruhi keadaan jasmani, yang menghasilkan pengindraan organis dan kinestetik serta ekspresi dan sorongan perasaan yang kuat. Emosi meliputi unsur perasaan, yang mengikuti keadaan fisiologis, mental, dan batin serta diekspresikan dalam bentuk tingkah laku. Cinta, benci, marah, duka, frustasi, bersalah, dan takut semua adalah emosi yang dimiliki oleh manusia.
Emosi memberikan pengaruh besar pada keadaan jasmani. Ketakutan yang berlebihan, kemarahan yang kuat serta kebimbangan yang dalam, dapat menimbulkan akibat-akibat yang merugikan kesehatan (ahmadi, 1992:65). Hal ini juga yang dialami oleh penderita diabetes. Ketika kondisi emosi penderita diabetes sedang tidak stabil atau mengalami emosi negatif, maka akan mempengaruhi penyakit yang di deritanya.
Cohen dan Williamson meyakini bahwa emosi negatif mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Teori ini juga diamini oleh Dr Candace Pert, seorang ahli tentang stres asal Amerika Serikat. Pert menyatakan bahwa otak menafsirkan stres, rasa marah, dan takut sebagai gangguan. Gangguan ini memicu timbulnya reaksi pada sistem kekebalan tubuh. Ketika kita merasa tertekan, otak akan memerintahkan tubuh melepaskan adrenalin untuk mengobati stres. Jika adrenalin yang dilepaskan terlalu banyak akan berakibat pada timbulnya emosi negatif yang berlebihan, maka tubuh menetralkan dengan melepaskan hormon kortisol. Jika kadar kortisol meningkat, akhirnya terjadi gangguan metabolisme seperti kegemukan, diabetes, hipertensi, serangan jantung, atau penurunan daya ingat. Dengan adanya emosi negatif ini tentunya akan semakin memperparah penyakit diabetes yang diderita (VKS, 2009).
Daftar pustaka
Ahmadi, A. (1992). Psikologi umum(edisi revisi). Surabaya: Bina Ilmu.
Akbar, K., & Afiatin, T. (2009). Pelatihan Manajemen Emosi Sebagai Program Pemulihan Depresi pada Remaja Korban Gempa Bumi. Jurnal Intervensi Psikologi, 1 (1), 107-128.
Ayu,T. M., & Satiadarma, M. P. (2006). Dinamika Emosional Kaum Selibat Dalam Menghadapi Midlife Crisis. Arkhe: Jurnal Ilmiah Psikologi, 10 (2), 59-75.
Djiwatampu, M. L. (2005). Peran Psikologi Dalam Kesehatan. Jurnal Intelektual, 3 (2), 121-128.
Fritz. (2008). Diabetes Mellitus- Diagnosa dan Penatalaksanaannya. Diakses pada tanggal 29 april 2010 dari www.i-comers.com
Hidayati, Dwi. (2009). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Pasien Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Trucuk I Kabupaten Klaten. Thesis. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Lazarus. (1976). Pattern of Adjustment and Human Effectiveness. New york: McGraw Hill Book Company.
Notosoedirjo, M. (2005). Kesehatan mental. Malang: UMM Press.
Rudijianto, Achmat. (2009). Diabetes dan Penanggulangannya. Disampaikan pada acara peringatan hari diabetes dunia.
Scherer, K. R., Wallbott, H. G. & Summerfield, A. B. (1986). Experiencing Emotion A Croos Cultural Study. Cambridge: Cambridge University Press.
Wade, C., & Travis, C. (2003). Psychology (7th edition). United States. McGraw Hill.
(http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-diabetes-mellitus/).
Posted in
Diposting oleh
justwrite
Langganan:
Komentar (Atom)





